Generasi Seperti Apa Diri Kita

Generasi Seperti Apa Diri Kita
Oleh: Rochma Yulika

Nahnu du’at qabla kulli syai’. Kita dai sebelum yang lainnya.
Mari kita belajar dari sejarah, lantaran dari situlah kita berkaca.

Banyak kisah kesyahidan yang menjadi ibrah bagi kita. Mereka berjuang dengan mengorbankan segenap jiwanya. Mereka berjuang tanpa harap imbalan dan balas jasa.

Namun tak sedikit di antara mereka yang kisahnya bisa kita ambil sebagai pelajaran berharga. Mereka berjuang bukan karena Allah, namun lantaran ada kepentingan pribadinya.

Dan akan kita dapati pula di akhir masa
Mana pemilik mental pejuang dan mana yang sekedar pecundang.
Siapa saja yang memiliki jiwa besar namun tak sedikit mereka yang hanya mampu omong besar.
Mereka lebih berhasrat untuk memenuhi keinginan jiwanya dibanding ketaatan kepada Rabbnya.
Mereka lebih memanjakan nafsunya dari pada bergegas menuju ketaatan pada Nya.
Mereka lebih mengejar dunianya dibanding akhiratnya…

Dan kita???
Apakah sudah menjadi pribadi-pribadi ikhlas kala menjalankan amanah perjuangan, atau sekedar memanfaatkan keadaan.

Jiwa-jiwa perindu surga yang senantiasa ingin memberikan baik harta maupun jiwanya untuk Allah yang esa.
Mereka akan berjuang dengan segenap jiwa dan raganya.
Kadang tak peduli letih dan lelah hadir mendera.

Jiwa-jiwa pencinta surga akan tetap menjaga keistiqamahannya.
Tanpa ada keinginan yang lahir dari hawa nafsunya.

Iman yang akan menuntun mereka menuju kebaikan.
Imanlah yang akan mengajarkan mereka untuk selalu meluruskan niat dalam sepak terjangnya.

Nasihat Ibnu khaldun dalam kitab Mukadimah.

Ada 4 generasi pejuang dalam sejarah
1. Generasi Pendiri
– pendobrak, berpikir di luar kewajaran.
– Rela berkorban dan tak berpikir materi.
– Semangat perjuangan
– Peletak dasar pondasi
– Pembangun sistem.

“Sebaik-baik generasi adalah generasi (yang sezaman dengan)ku, kemudian yang mengiringi mereka, kemudian yang mengiringi mereka. Setelah itu muncul beberapa kaum yang kesaksian salah seorang mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului kesaksiannya (HOUR. Bukhari)

Khairunnasi qarni, tsummalladzina ya luunahum, tsummalladzina ya lunahum.

2. Generasi Pendukung
– Masih mewarisi semangat pendiri
– Bersemangat mendukung dakwah.
– Melanjutkan sistem dan memperbaikinya
– Menentukan fase berikutnya
– Jumlahnya bertambah besar
– Menuntut kreativitas riayah.

3. Generasi yang menikmati ghanimah.
– Mulai bersentuhan dengan kemudahan dan harta
– Mulai muncul penyimpangan-penyimpangan.
– Fase yang diisi oleh orang-orang yang masih komitmen dengan dakwah dan ada orang-orang yang tergoda.

4. Generasi penghancur
– Genarasi yang sudah menyipang dari garis perjuangan.

Di penghujung malam…
Banguntapan, 5 Juni 2015

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s