Mari Menjadi Cermin Terbaik Bagi Anak Kita

Mari Menjadi Cermin Terbaik Bagi Anak Kita
Oleh: Rochma Yulika

Bismillah…
Kumulai kalimatku dengan basmalah lantaran banyak sekali alpa dari diri ini. Juga karena kelemahan-kelemahan yang kami miliki.

Sahabat Surgaku…
Bagi kita para orang tua, terutama ibu memiliki peran penting dalam pendidikan anak-anaknya. Posisi yang sangat strategis bagi kita yakni bukan hanya menjadi seorang ibu, namun menjadi guru, sahabat, pendesign masa depan anak-anaknya.

Saatnya bercermin…

Bunda Rochma Yulika II's photo.

Hati-hatilah bunda bila bersikap…
Hati-hatilah bunda bila berucap…
Hati-hati pula kala berperilaku,
lantaran bisa jadi akan ditiru.

Menjadi ibu sangat mudah dalam ukuran biologis namun menjadi ibu yang sejati tidaklah mudah. Butuh perjuangan bahkan pengorbanan. Untuk itulah kita sebagai ibu harus senantiasa belajar untuk menjadi lebih baik. Bukan hanya untuk kepentingan pribadi namun demi kebaikan anak-anak kita juga.

Mengapa harus ibu??
Dalam diri ibu ada perasaan lembut, batin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketangguhan.

Siapa ibu??
Ia bak padanan kehidupan, tempat mengadu, tiang pancang tegaknya urusan, damainya rumah, dan kunci kesuksesan.

Siapa ibu??
Dia makhluk yang paling lembut namun sosok tegarnya bagaikan karang yang tak mudah runtuh diterjang gelombang.

Siapa ibu??
Dia adalah teman baik kala jiwa gundah, sahabat dekat kala hati bahagia, sumber ketenangan dan rasa aman.

Begitu banyak kata yang teruntai dalam kalimat tak kan sanggup menggambarkan sosok ibu.

Ibu adalah wanita yang hebat. Bahkan sangat hebat dan luar biasa. Tidak ada satu katapun yang pantas dan bisa untuk melukiskan kehebatan kasih sayang seorang ibu. Ibu adalah sosok pribadi yang pemberi. Seorang pemberi tanpa pamrih dan selalu diiringi dengan hangatnya kasih sayang. Mulai dari do’a, pengorbanan yang tulus, tenaga, fikiran, waktu, harta benda dan juga air mata telah diberikan oleh seorang ibu kepada kita.

Hanya satu harapan ibu, yaitu supaya kita−anak-anaknya− bisa bahagia dan hidup sejahtera. Sederhana bukan? Ya, tapi tidak dengan pengorbanan ibu untuk kita, pegorbanan beliau sungguh luar biasa. Kadang agar kita bahagia, tidak jarang seorang ibu harus mengabaikan kebahagiaan untuk dirinya sendiri.

Mari kita belajar untuk menjadi orang tua yang baik. Mengapa perlu belajar? Karena ilmu menjadi ibu itu mudah diucapkan namun berat untuk dilakukan. Maka belajar dan belajar menjadi kewajiban bagi kita.

Ada beberapa hal yang harus kita penuhi ketika ingin menjadi ibu teladan bagi anak-anaknya.

1. Mendidik anak butuh ILMU
– Ilmu agama adalah sumber pengetahuan maka dari itu dimana saja dan dari mana kita berusaha mencari untuk kita pelajari tentang ilmu agama tersebut.

2. Mendidik anak memerlukan keshalihan orang tua.
– Ketika anak kita mulai membuka mata yang pertama dilihat adalah orang tuanya. Kebiasaan yang dilakukan para orang tua akan dicontoh oleh anak-anak kita. Maka mari kita biasakan diri dengan hal yang baik agar anak-anak kita meniru hal yang baik dari diri kita. Itulah keteladanan.

3. Mendidik anak memerlukan keikhlasan.
– Semua aktivitas, mari kita niatkan karena Allah swt. Ikhlaslah yang akan menguatkan langkah kita dalam menjalani berbagai kesulitan yang akan kita hadapi dalam mendidik anak-anak kita. Dengan ikhlas pula segala yang dirasa sulit akan menjadi mudah. Segala yang sempit akan terlapangkan.

4. Mendidik anak memerlukan kesabaran.
– Liku-liku dalam mendidik anak butuh kelapangan hati. Menjadi sabar butuh proses. Bersabar menjadi pendengar bagi anak kita, bersabar kala keadaan tak sama dengan yang diharapkan. Menjadi sabar itu butuh penguat yakni keimanan kita yang mendalam kepada Allah dan meyakini setiap episode yang kita lalui tak lepas dari skenario Nya.

5. Mendidik anak dengan menyertakan Doa.
– Ikhtiar sudah kita lakukan yang menjadi puncak dari segala usaha adalah doa. Doa ibu akan menjadi pembuka kesuksesan anak-anaknya. Kekuatan ikatan batin dari seorang ibu inilah yang mampu menjadikan anak-anak seperti yang diharapkan.

Teringat sebuah catatan dari anakku yang paling besar. Salma Shafiyatu Maulana namanya. Sekitar 4 tahun lalu ketika dia duduk di kelas 5 sd. Tersentuh aku membaca cita-citanya. Kala teman-teman sebayanya menuliskan cita-cita ingin menjadi seorang dokter, designer, dosen dll. Saat itu aku terpaku membaca cita-citanya. “Ketika aku besar aku ingin menjadi hafidzah, karena aku ingin berkumpul bersama keluargaku di surga”. Meleleh kubaca rangkaian kalimat anakku kala itu. Seperti itulah bunda… Maka mari bersama-sama meneladankan diri, menjadikan diri kita untuk lebih baik agar kebaikan terwariskan pada anak-anak kita. Aamiin

Untuk semua helaan nafas, desah rasa, degup pikir, derap langkah, dan persembahan terbaik yang telah kita lakukan hingga detik ini untuk menjadi seorang ibu. Berharap Allah SWT pasti memberikan yang terbaik dari setiap lelah yang tertanggungkan. Hal jaza’ul ihsan illal ihsan… Ar Rahman: 60.

Demikian sedikit berbagi semoga Allah menjaga kita dalam kebaikan.
Mohon maaf bila ada kekuranhan dan jazakumullahu khairan katsira…

Insya Allah kan jadi hafidzah sebentar lagi Salma Shafiya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s