Menyemai Benih Keimanan dari Dalam Rumah Lampiran: (Kurikulum Pendidikan Iman dan Tahapan Menanam Benih Keimanan di 7 Tahun pertama) Oleh Kiki Barkiah

Menjadi orang tua akan memaksa kita untuk selalu lebih baik menjalani kehidupan sesuai syariat islam. Tanpa kita perlu banyak membaca teori parenting khususnya dari buku-buku psikologi dunia barat, sebenernya banyak permasalahan pengasuhan anak yang akan terselesaikan ketika kita menanam benih-benih keimanan dalam hati anak-anak.

Setiap hari menyirami pohon keimanan itu dengan nasihat dan keteladanan sampai iman merasuk dalam hati mereka dan membuat mereka bersedia untuk menerima hukum-hukum Allah dengan kelapangan hati dan bersedia untuk hidup di atas syariatNya. Tidak akan kita menemukan anak-anak yang melawan dan bersikap kasar terhadap rang tua mereka karena islam memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua. Tidak akan kita menemukan anak-anak yang bersikap melampaui batas dalam hal pergaulan karena islam telah mengatur itu semua.

Lihatlah fenomena generasi muda masa kini.
* 4 dari 100 pelajar dan mahasiswa Indonesia mengkonsumsi narkoba
•    95 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 SD telah mengakses pornografi
•    93 dari 100 remaja pernah berciuman bibir
•    600.000 kasusanak-anak Indonesia hamil diluar nikah usia 10 – 11 tahun
•    2,2 juta kasus  remaja Indonesia usia 15 – 19 tahun yang hamil di luar nikah
•    5 dari 100 remaja tertular penyakit menular seksual
•    3061 remaja terinfeksi HIV setiap 3 bulan
* Kasus INCEST Terjadi di 25 Propinsi pada 2014

[Rangkuman data dari BNN dan Puslitkes UI (2011), KPAI (Oktober 2013), Kemenkes (Oktober 2013), Divisi Anak dan Remaja YKBH (2014), Content Analysis berita online YKBH, (2014)]

Sumber: web yayasan kita dan buah hati.

image

Kira-kira apa agama pelaku data tersebut? Jika persentase muslim Indonesia mencapai hingga 12,7 persen dari populasi dunia. Dari 205 juta penduduk Indonesia, dilaporkan sedikitnya 88,1 persen beragama Islam (republika), maka dapat kita simpulkan bahwa mayoritas pelaku adalah muslim. Mereka belajar islam, belajar mengaji, belajar Al-quran. Bahkan diantara mereka insya Allah bisa membaca Al-quran bahkan menghafalnya.

Namun apakah anak-anak dalam data tersebut hatinya bersedia tunduk terhadap hukum Allah? Jika mereka bersedia untuk tunduk kepada hukum Allah, kita tidak akan melihat data yang begitu mengerikan seperti ini.

Lalu bukankah anak-anak juga belajar islam? Bahkan diantara mereka sekolah di sekolah islam. Diantara mereka bahkan tinggal dalam suasana pesantren. Keadaan ini adalah keadaan yang disampaikan Rasulullah SAW, dimana jumlah ummat muslim begitu banyak namun bagai buih di lautan.

Iman sebelum Al-quran VS Al-quran sebelum iman

Salah seorang sahabat nabi yang merupakan salah satu murid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jundub ibn ‘Abdillah mengatakan, “kami bersama nabi shallallahu ‘alaiahi wa sallam, saat kami pemuda, kami belajar iman sebelum al-Qur’an. Lalu kami belajar al-Qur’an, sehingga iman kami bertambah. (Sunan Ibnu Majah, 1/74, no.64, dan Imam Tarikh al-Kabir, 2/221, Sunanul Kubro , 2/49, no. 5498, Mu’jam al-Kabir, 2/225 no. 1656, dan dishahihkan oleh Syekh al-Bani dalam Shahih Sunan Ibn Majah, 1/16, no.52

Abdullah ibn ‘Umar ibn Al-Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Kami telah mengalami masa yang panjang dalam perjuangan Islam, dan seorang dari kami telah ditanamkan keimanannya sebelum diajarkan Al-Qur’an, sehingga tatkala satu surah turun kepada Nabi Muhammad Saw maka ia langsung mempelajari dan mengamalkan halal-haram, perintah-larangan dan apa saja batasan agama yang harus dijaga. Lalu aku melihat banyak orang saat ini yang diajarkan Al-Qur’an sebelum ditanamkan keimanan dalam dirinya, sehingga ia mampu membaca Al-Qur’an dari awal hingga akhir dan tak mengerti apa-apa soal perintah dan larangan dan batasan apa saja yang mesti dipelihara.” [Kitab Al-Mustadrak ‘Alash-Shahiihain, Jilid I hlm, 35]

Hasan Al-Bashri berkata: ““Sungguh, Al-Qur’an ini telah dibaca oleh budak-budak sahaya dan anak kecil yang tak mengerti apapun penafsirannya. Ketahuilah bahwa mentadabburi ayatnya tak lain adalah dengan mengikuti segala petunjuknya, tadabbur tak hanya sekedar menghafal huruf-hurufnya atau memelihara dari tindakan menyia-nyiakan batasannya. Sehingga ada seorang berkata sungguh aku telah membaca seluruh Qur’an dan tak ada satu huruf pun yang luput, sungguh demi Allah orang itu telah menggugurkan seluruh Qur’an karena Qur’an tak berbekas dan tak terlihat pengaruhnya pada akhlak dan amalnya!” [kitab Az-Zuhd, hlm 276]

Inilah salah satu permasalahan ummat sepeninggal Rasulullah, bahkan permasalahan ini telah muncul saat para sahabat masih hidup. Maka sangat wajar bila dari masa ke masa permasalahan ini semakin memuncak dan pada akhirnya menimbulkan persoalan pelik ummat ini. Inilah hasilnya ketika ilmu agama menjadi ilmu kognitif yang sejajar dengan mata pelajaran lainnya. Ah….. begitu banyak hal yang harus kita kejar sementara kita pun korban dari pelumpuhan nilai-nilai agama yang disempitkan dalam kurikulum pendidikan agama di dalam sekolah.

Tentu hasilnya berbeda antara:

* Belajar Tentang Iman VS Belajar Menjadi orang yang beriman
* Belajar arti iman VS belajar menjalani hidup diatas keimanan
* Belajar macam-macam iman vs belajar meraih ketinggian iman
* Belajar untuk menjawab soal ujian bab keimanan VS belajar agar keimanan berbuah surga

image

Kurikulum Ilmu Keimanan

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang (riwayat lain tujuh puluh tujuh cabang) dan yang paling utama ialah Laa ilaaha illa Allah, dan yang terendah ialah mebuang duri dari jalan. Dan malu juga merupakan salah satu cabang iman.” (Ashhabus Sittah).
Banyak ahli hadits yang menulis risalah mengenai cabang iman di antaranya ialah : Abu Abdillah Halimi rah a dalam Fawaidul Minhaj, Imam Baihaqi rah a dalam Syu’bul Iman, Syaikh Abdul Jalil rah a dalam Syu’bul Iman, Ishaq bin Qurthubi rah a dalam An Nashaih, dan Imam Abu Hatim rah a dalam Washful Iman wa Syu’buhu.

Para pensyarah kitab Bukhari rah a menjelaskan serta mengumpulkan ringkasan masalah ini dalam kitab-kitab tersebut. Walhasil pada hakikatnya iman yang sempurna itu mempunyai 3 (tiga) bagian :

1. Tashdiq bil Qalbi, yaitu meyakini dengan hati,
2. Iqrar bil Lisan, mengucapkan dengan lisan, dan
3. Amal bil Arkan, mengamalkan dengan anggota badan.

Cabang iman terbagi lagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu yang berhubungan dengan :
1)      Niat, aqidah, dan amalan hati;
2)      Lidah; dan
3)      Seluruh anggota tubuh.
[Penjabaran 77 cabang iman terlampir, penulis copas dari artikel https://muslimah.or.id/6020-cabang-cabang-iman.html%5D

Maka apa yang kita pelajari di sekolah tentang iman memanglah tidak salah, tetapi kita hanya mempelajari highlight ilu keimanan. Ilmu itu dipangkas habis menjadi literatur pelajaran yang bersifat hafalan agar anak-anak mampu menjawab soal tentang bab keimanan dalam ujian. Jika saja cabang keimanan menjadi bab yang dirinci dengan serius dalam pendidikan anak-anak kita, insya Allah beih-benih keimanan akan memenuhi jiwa anak-anak sehingga mereka memiliki ketundukkan kepada Allah untuk siap melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya.

Belajar iman sebelum Al-Quran bukan berarti melarang belajar quran sebelum rampung belajar tentang keimanan. Belajar iman sebelum Al quran artinya menyiram dan memupuk benih keimanan sehingga anak-anak dapat:

– Menundukkan hati kita untuk mengagungkan Allah
– Menundukkan hati kita untuk mengagungkan perintah dan larangan Allah
Sehingga ketika iman telah merasuk jiwa maka hati siap untuk menerima dan melaksanakan Al-quran.

Inilah proyek besar dalam rumah tangga kita, proyek menanam benih keimanan dalam hati anak-anak dengan cara:

1. Mengajarkan Ilmu yang menumbuhkan, mengokohkan dan menyuburkan keimanan (secara khusus melluangkan waktu mengajarkan iai quran dan hadist)
2. Memberikan teladan dalam amal sebagai buah dari keimanan
3. Menjaga dari segala sesuatu yang akan merusak keimanan
4. Menggali hikmah kejadian sehari-hari agar semakin menyuburkan keimanan

image

Sebuah proyek besar dengan target:

* Saat anak 7 tahun, ia mencapai tamyiz  (mampu membedakan mana hal yang bermanfaat baginya dan mana hal yang membahanyakan dirinya)
* Saat anak 7 tahun, ia bersedia mendapat beban untuk  belajar melaksanakan ibadah mahdoh tanpa banyak penolakan
* Saat anak 10 tahun telah berkomitmen melaksanakan shalat dan ibadah wajib lainnya sebagai buah keimanan
* Saat anak telah baligh mereka telah siap melaksanakan seluruh hukum Allah (mencapai mukallaf)
* Saat anak mencapai baligh anak juga mencapai akil  (dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah, mengetahui kewajiban, dibolehkan dan yang dilarang, serta yang bermanfaat dan yang merusak) Tidak semua anak baligh saat ini mencapai akil
* Saat anak mencapai akil baligh tak lama kemudian ia meraih usia Ar Rusyd (saat mereka telah mampu membelanjakan, menyimpan dan mengembangkan uang)

Artinya ketika anak akil baligh, anak telah:
1. Mengetahui tujuan hidupnya
2. Rampung mengetahui garis besar hukum-hukum Allah
3. Siap melaksanakan perintah dan larangan Allah

Mari kita pangkas fasa remaja anak!! fasa yang memberi ruang untuk labil dan melakukan kesalahan. Mari kita didik anak menjadi syabab/pemuda!!! dan memperlakukan mereka sebagai pemuda ketika masa baligh telah tiba.

Proyek besar ini kita ulai dari rumah. Menanam benih unggul di lahan yang unggul kemudian secara istiqomah menyiram tanaman keimanan ini agar tumbuh kokoh dan menjulang tinggi dan pada akhirnya akan berbuah kemanfaatan.

Berikut salah satu upaya yang dapat kita lakukan dalam menyemai benih keimanan di tahapan usia sebelum tamyiz

Basuta:
Pengenalan suasana kehidupan beragama dengan:
– memperdengarkan lantunan ayat suci Al-quran, doa, dan asma Allah
– memperlihatkan dan memperdengarkan berbagai ciptaan Allah
– memperlakukan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang
– Memperlihatkan suasana kegiatan beribadah

1-2 tahun
Pada usia ini biasnya anak mulai lebih tertarik pada kegiatan beragama dengan menirukannya.  Anak juga suka meniru perilaku orang tua dan saudaranya.
materi:
– Membiasakan anak berada dalam suasana kegiatan beribadah
– Memberikan keteladanan dalam bersikap
– Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah
– Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah
– Memperkenalkan kata-kata ajaib yaitu terimakasih, maaf, tolong, permisi.
– Memperkenalkan kalimat-kalimat singkat yang bekaitan dengan ibadah seperti basmallah, hamdallah, dan salam
– Memperdengarkan surat pendek dalam Al-Quran secara berulang dan mendorong anak untuk menirukan akhiran ayat

image

2-3 tahun
Pada usia ini biasnya anak mulai lebih tertarik pada kegiatan beragama dengan menirukannya.  Anak juga suka meniru perilaku orang tua dan saudaranya.
materi:
– Memberikan keteladanan dalam bersikap
– Membiasakan anak berada dalam suasana kegiatan beribadah
– Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah
– Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah
– Memperdengarkan surat pendek dalam Al-Quran secara berulang dan mendorong anak untuk menirukan akhiran ayat
– Mempraktekan kata-kata ajaib yaitu terimakasih, maaf, tolong, permisi.
– Mempraktekan kalimat-kalimat singkat yang bekaitan dengan ibadah seperti basmallah, hamdallah, dan salam
– Mencontohkan potongan kata dari doa-doa singkat, biasanya anak akan mengikuti akhiran kemudian semakin lama semakin hafal
– Mulai mengajarkan tauhid rububiyah (Allah sebagai pencipta) yaitu dengan sering menyebutkan asma Allah saat memperkenalkan ciptaan Allah
– Membangun sikap bersedia berbagi, menunggu giliran, menolong orang lain dan bekerja sama

3-4 tahun
Pada usia ini anak mengetahui perilaku yang berlawanan seperti pemahaman perilaku baik-buruk, benar-salah, sopan-tidak sopan meskipun belum dapat konsisten melakukan kebaikan. Anak mengetahui arti kasih dan sayang kepada ciptaan Tuhan. Anak dapat meniru kegiatan beribadah dengan lebih baik lagi.
Materi:
– Memberikan keteladanan dalam bersikap
– Membiasakan anak berada dalam suasana kegiatan beribadah
– Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah
– Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah
– Memperdengarkan surat pendek dalam Al-Quran secara berulang dan mendorong anak untuk menirukan akhiran ayat
– Mengajarkan tauhid rububiyah (Allah sebagai pencipta) yaitu dengan sering menyebutkan asma Allah saat memperkenalkan ciptaan Allah
– Memcontohkan doa-doa singkat, biasanya anak akan mengikuti akhiran kemudian semakin lama semakin hafal
– Memperdengarkan surat pendek secara berulang
– Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik secara langsung dalam kehidupan sehari-hari
– Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik  melalui buku, permainan pura-pura atau cerita
– Memberikan pengertian tentang perilaku buruk, salah, atau tidak sopan saat mengalami peristiwa yang berkaitan dengan hal tersebut
– Mengajak anak terlibat dalam kegiatan beribadah tanpa paksaan
– Mengajarkan sikap kasih sayang terhadap makhluk Allah (hewan, tumbuhan manusia)
– Memperkenalkan kisah nabi melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
– Memperkenalkan kisah nabi melalui film kartun
– Memperkenalkan cuplikan kisah keteladanan dari sirah Rasulullah SAW dan sahabat melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku

4-5 tahun
1. Memberikan pendidikan agama dan moral
Pada usia ini anak telah mengetahui agama yang dianutnya, anak dapat meniru gerakan beribadah dengan urutan yang benar, anak mulai dapat mengucapkan doa sebelum dan/atau sesudah melakukan sesuatu, anak dapat mengenal perilaku baik/sopan dan buruk
Materi:
– Memberikan keteladanan dalam bersikap
– Membiasakan anak berada dalam suasana kegiatan beribadah
– Memberikan kesan positif bagi anak tentang kegiatan beribadah
– Melatih anak untuk bersikap baik terhadap orang yang sedang beribadah
– Mengajarkan sikap kasih sayang terhadap makhluk Allah (hewan, tumbuhan manusia)
– Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik secara langsung dalam kehidupan sehari-hari
– Memperkenalkan berbagai kebaikan, perilaku baik dan kebiasaan baik  melalui buku, permainan pura-pura atau cerita
– Memberikan pengertian tentang perilaku buruk, salah, atau tidak sopan saat mengalami peristiwa yang berkaitan dengan hal tersebut atau dengan menggunakan kisah dari buku
– Memperkenalkan kisah nabi melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
– Memperkenalkan kisah nabi melalui film kartun
– Memperkenalkan cuplikan kisah keteladanan dari sirah Rasulullah SAW dan sahabat melalui buku cerita singkat atau menceritakan kembali dengan bahasa sederhana dengan bantuan ilustrasi buku
– Memberikan konsep agama melalui buku dengan bahasa sederhana atau dengan menyederhanakan bacaan
– Mengajak anak untuk melakukan ibadah shalat meski hanya sebatas gerakan dan belum memiliki kekonsistenan dalam melaksanakannya
– Mendekatkan anak dengan mesjid dengan sering mengajaknya shalat berjamaah atau menghadiri kegiatan majelis dzikir
– Mencontohkan doa-doa singkat dan meminta anak menghafal secara bertahap
– Memperdengarkan surat pendek secara berulang dan meminta anak menghafalnya secara bertahap, tanpa paksaan
– Mengajak anak terlibat dalam kegiatan beribadah tanpa paksaan

image

Adapun penekanan konsep agama yang disampaikan di usia ini baik melalui kisah nabi, Rasulullah saw, para sahabat maupun kisah fiktif yang menceritakan pengalaman sehari-hari diharapkan dapat membangun pemahaman anak sbb:
a. Allah sebagai pencipta
b. Allah sebagai pemberi rezeki
c. Allah sebagai pemilik segala sesuatu di alam jagat raya
d. Allah sebagai pembuat hukum atau aturan
e. Allah sebagai pemerintah
f. Allah sebagai satu-satunya zat yang di sembah

usia 5-7 tahun
– Terus istiqomah dengan apa yang dilakukan di tahapan usia sebelumnya
– Mulai memiliki jadwal khusus untuk halaqoh agama dalam keluarga dan meminta komitmen anak dalam berpartisipasi di dalamnya
– Mulai mengabarkan bahwa di usia 7 tahun orang tua memiliki kewajiban untuk melakukan pendidikan shalat secara lebih konsisten
– Memperkenalkan materi fiqh ibadah secara lebih detail dan terstruksur sejalan dengan kemampuan mereka memahami bahasa dan isi bacaan buku
– Mendorong anak untuk secara rutin melakukan ibadah mahdoh meski belum membebani mereka untuk istiqomah menjalankannya
– Mendorong anak belajar mengaplikasikan sunnah Rasulullah dimulai dari hal-hal sederhana dalam keseharian
– Memberikan motivasi bagi anak untuk menghafal Al-quran
– Mulai secara rutin dan konsisten menghafal Al-quran
– Meningkatkan penjagaan terhadap segala pengaruh yang dapat merusak fitrah anak-anak

Adapun penekanan konsep agama yang disampaikan di usia 5-7 baik melalui kisah nabi, Rasulullah saw, para sahabat, serta menyampaikan materi islam secara lebih tersturktur diharapkan dapat membangun pemahaman anak sbb:

1. Anak mengenal konsep “Islam The Way of Life”
2. Anak mengenal kesempurnaan islam yang mengatur semua bidang kehidupan dari urusan kecil sampai urusan besar
3. Anak Mengenal konsep hari akhir dan negeri akhirat
4. Anak mengenal konsep pertanggungjawaban amal perbuatan
5. Anak mengenal malaikat
6. Anak mengenal konsep bahwa syaitan adalah musuh nyata baginya
7. Anak mengenal konsep “Rasulullah sang Teladan”
8. Anak mengenal konsep bahwa mengaplikasikan islam berarti meneladani/itiba Rasulullah

Lampiran:

Kurikulum Ilmu Keimanan

77 Cabang Iman:
Amal yang terkait dengan hati itu ada yang berupa keyakinan dan ada yang berupa niat. Ia terbagi dua puluh empat perkara, yaitu:

1. Beriman kepada Allah, termasuk di dalamnya beriman kepada Dzat-Nya, sifat-Nya, tauhid-Nya, dan bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya, serta meyakini barunya segala sesuatu selain-Nya,
2. Demikian pula beriman kepada malaikat-Nya,
3. Beriman kepada kitab-kitab-Nya,
4. Beriman kepada rasul-rasul-Nya,
5. Beriman kepada qadar-Nya yang baik maupun yang buruk,
6. Beriman kepada hari Akhir, termasuk di dalamnya beriman kepada pertanyaan di alam kubur, kebangkitan, penghidupan kembali, hisab, mizan, shirat, surga, dan neraka.
7. Mencintai Allah,
8. Cinta dan benci karena-Nya.
9. Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meyakini kemuliaannya. Termasuk di dalamnya bershalawat kepadanya dan mengikuti sunnahnya.
10. Berniat ikhlas, termasuk di dalamnya meninggalkan riya’, dan kemunafikan.
11. Bertobat.
12. Khauf (rasa takut kepada Allah).
13. Raja’ (berharap kepada Allah)
14. Bersyukur
15. Memenuhi janji
16. Bersabar
17. Ridha terhadap qadha’ Allah
18. Bertawakkal (menyerahkan urusan kepada Allah)
19. Bersikap rahmah (sayang)
20. Bertawadhu’, termasuk di dalamnya menghormati yang tua dan menyayangi yang muda.
21. Meninggalkan sombong dan ujub.
22. Meninggalkan hasad.
23. Meninggalkan dendam
24. Meninggalkan marah.

Amal yang terkait dengan lisan itu ada tujuh perkara, yaitu:

1. Melafazkan tauhid
2. Membaca Al Qur’an
3. Mempelajari ilmu
4. Mengajarkannya
5. Berdoa
6. Berdzikr, termasuk di dalamnya beristighfar.
7. Menjauhi perkataan sia-sia (laghwun).

Amal yang terkait dengan anggota badan itu ada tiga puluh delapan perkara, di antaranya ada yang terkait dengan orang-perorang, ia ada lima belas perkara, yaitu:

1. Membersihkan, baik secara hissi (inderawi) maupun maknawi. Termasuk di dalamnya menjauhi najis.
2. Menutup aurat.
3. Melaksanakan shalat baik fardhu maupun sunat.
4. Zakat juga demikian.
5. Memerdekakan budak.
6. Bersikap dermawan. Termasuk di dalamnya memberikan makan dan memuliakan tamu.
7. Berpuasa, yang wajib maupun yang sunat.
8. Berhaji dan berumrah juga demikian.
9. Berthawaf.
10. Beri’tikaf.
11. Mencari malam Lailatul qadr.
12. Pergi membawa agama. Termasuk di dalamnya berhijrah dari negeri syirk.
13. Memenuhi nadzar.
14. Memeriksa keimanan.
15. Membayar kaffarat.

image

Yang terkait dengan yang menjadi pengikut, ia ada enam perkara, yaitu:

1. Menjaga diri dengan menikah.
2. Mengurus hak-hak orang yang ditanggungnya.
3. Berbakti kepada kedua orang tua, termasuk pula menjauhi sikap durhaka.
4. Mendidik anak.
5. Menyambung tali silaturrahim.
6. Menaati para pemimpin atau bersikap lembut kepada budak.

Yang terkait dengan masyarakat umum, ia ada tujuh belas cabang, yaitu:

1. Menegakkan pemerintahan dengan adil.
2. Mengikuti jamaah.
3. Menaati waliyyul amri (pemerintah).
4. Mendamaikan manusia, termasuk di dalamnya memerangi khawarij dan para pemberontak.
5. Tolong-menolong di atas kebaikan, termasuk di dalamnya beramr ma’ruf dan bernahi munkar.
6. Menegakkan hudud.
7. Berjihad, termasuk di dalamnya ribath (menjaga perbatasan).
8. Menunaikan amanah.
9. Menunaikan khumus (1/5 ghanimah).
10. Memberikan pinjaman dan membayarnya, serta memuliakan tetangga.
11. Bermu’amalah dengan baik.
12. Mengumpulkan harta dari yang halal.
13. Menginfakkan harta pada tempatnya, termasuk di dalamnya meninggalkan boros dan berlebihan.
14. Menjawab salam.
15. Mendoakan orang yang bersin.
16. Menghindarkan bahaya atau sesuatu yang mengganggu dari manusia.
17. Menjauhi perbuatan sia-sia dan menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan.
Sehingga jumlahnya 69 perkara, dan bisa menjadi 79 jika sebagiannya tidak disatukan dengan yang lain, wallahu a’lam. (Lihat Fathul Bari juz 1 hal. 77)

Referensi:
Insipraasi dari Rumah Cahay; Budi Azhari, Lc
Al- Quran dan Hadist
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomer 137 tahun 2014 tentang Stanar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini
Slow and Steady Get Me Ready, June R Oberlander
The Good Housekeeping Book of Child Care: Inicluding Parenting Advice, Health Care & Child Development for Newborns to Preteens; From the Editors of Good Housekeeping; Hearst Book, 2004 
https://muslimah.or.id/6020-cabang-cabang-iman.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s