menggugat ADK

ini tadi nya mau dijadiin buku. tapi makin hari makin greget lihat isi timeline bikin gerah tapi g berbanding lurus dengan kesempatan melanjutkan kisahnya.

y udahlah..post sini ja 😀 😀 😀

 

*ini agak serius

.

.

I<>I<>I<>I<>I<

.

.

Dakwah Muslimah dulu dan kini:

Menggugat Aktivis Muslimah I

 

Ada tiga hal yang menjadi landasan kerja-kerja dakwah. Pertama, Quwattul Aqidah, kuatnya keyakinan kita kepada Allah. Kedua Quwwatu Ilmi, kekuaan ilmu seorang dai. Karena hanya dengan ilmu –lah kita bisa menyampaikan dakwah mulia ini dan tahu bagaimana dakwah yang sesuai untuk objek dakwah kita. Ketiga, quwwatu ukhuwahm kuatnya ukhuwah di antara para pengusung dakwah. Point ketiga ini merupakan keniscayaan, karena dakwah ini adalah proyek amal jama’i. ukhuwah pula lah penguat dakwah.

“Sami’ na wa athoq na” yang menjadi ruh gerak gerakan dakwah, berawal dari ketuntasannya proses ukhuwah yang purna. Tahapan pertama adalah ta’aruf (saling mengenal), lalu kedua taffahum (saling memahami) dan ketiga adalah takaful (saling menolong). Bagi ADK yang telah sukses melewati tahap demi tahap tersebut, tak kan kesulitan memahami dan menerapkan konsep ‘qiyadah wal jundiyah’. Apalagi jika masing-masing personil dalam LDK tersebut telah semua mengikuti tahapan yang sama.

Sejarah telah membuktikan, bahwa mereka yang sukses dan menjadi pemimpin-pemimpin yang berkharakter adalah mereka yang dulu ‘hati’nya tertaut pada Rabb nya sehingga pasca kampus pun, suasana dan karakter tersebut telah terbentuk dengan baik.

Timbul pertanyaan dibenak saya setelah ‘tak sengaja’ berdiskusi dengan beberapa ADK aktif di kampus melalui facebook beberapa waktu lalu. Dari pernyataan yang mereka lontarkan, muncul pertanyaan: Bagaimanakah sebenarnya hubungan Murobbiy – Mutarobbiy serta Qiyadah – Jundiyah di kampus saat ini? Mengapa ‘sepertinya’ sekarang menjadi tidak jelas mana qiyadah mana jundi-nya? Mengapa beberapa di antaranya cenderung stagnasi (jika tak ingin dikatakan mati suri)? Ada apa?

Sebelum penggagas bunga rampai ini menghubungi kami, saya sempat tabayyun ke beberapa ADK. Alhamdulillaah bertemu dengan salah satu akhowat yang ternyata Murobbiyah kampus. Dari diskusi dengan mereka, ada beberapa argumentasi yang bisa saya simpulkan.

Argumentasi pertama datang dari mereka yang telah melewati kehidupan kampus tapi masih berinteraksi. Menurut mereka, ADK masa kini telah melupakan atau mungkin keliru  dalam memahami konsep ‘qiyadah wal jundiyah’. Banyak dari mereka hanya menjadikan konsep ini sebagai materi training dan daurah tapi terhenti sebatas hafalan saat post test kelulusan. Hasilnya seperti mahasiswa saingan Rachondas di film 3 idiot itu. Nilainya luar biasa tapi gagal dalam pemahaman serta aplikasi. Kasusnya, ketika Qiyadah memerintah laksanakan A, tapi di lapangan, sang jundi ‘kreatif’ mengambil jalan yang ‘menurutnya’ lebih efektif. Seperti hasil tabayyun saya ke Murobbiy kampus terkait beberapa kasus.

Argumentasi berikutnya datang dari mereka yang masih aktif di LDK. Entah mengapa Allah sampaikan langkah mereka ke rumah kecil kami petang itu. Dan hujan memberikan luang waktu berdikusi lebih panjang lagi. Mayoritas dari mereka seakan mengalami kejenuhan dalam melakukan kreasi atau bahkan inovasi dalam dakwah. Mereka ini memang tengah berjubel di lapangan dan terkadang ‘ada’ yang merasa ‘paling’ baik eksternal dan internal. Kadang berdiskusi dengan senior yang berada pada kehidupan pasca kampus dilakukan hanya di awal kepengurusan atau bisa jadi enggan berdiskusi dengan beberapa pihak karena ada ‘selentingan’ masuk hingga mengundurkan diri.

“Mereka hendak membentuk citra baru ADK. Dan kami kurang suka caranya.“ Begitu katanya.

Beberapa ADK ‘kreatif’ ingin membentuk citra yang lain bahkan sangat lain dari sebelumnya. Mencoba beragam cara tapi sepertinya lupa jika istiqomah -lah kunci utama keberhasilan gerakan. Dan pendapat ini pula lah yang mengantarkan beberapa ADK berhenti lalu memilih gerakan lain yang masih berjati diri. Usrah pun tak hadir di sini. Yang seharusnya ‘sami’ na wa athoq na” menjadi ‘sami’ na wah fikir-fikir dulu ya..”

Terlupa kah kita bahwa rahasia menjadi ADK karena melaksanakan perintahNYA?

Kreasi dan inovasi itu perlu.

DULU… pamflet syiar kegiatannya kaku. Tak boleh banyak variasi ini itu. Kartun sedikit sudah dilirik kaderisasi diminta ganti yang baru. Herannya, peserta yang datang insya Allah betah di lingkungan dan akhirnya ikut liqo’an. Bertambah lagi kader militan.

SEKARANG.. kelihatan makin eye-catchy dengan typhografi. Alhamdulillaah..moga makin panjang barisan pejuang risalah para nabi.

DULU… kendaraan pribadi sedikit yang punya. Ada nya motor astrea tua susah pula engkolnya. Motor satu dibawa ke mana-mana sampe lupa siapa yang punya. Datang majlis ilmu mesti bolak balik jemputannya. Yang kurang sabar antrian milih berlarian atau santai berjalan. Tak peduli terik memanggang dan peluh berlompatan.

SEKARANG…jangankan roda dua, roda empat pun ada. Manual bisa. Matic juga. Majlis ilmu makin ramai ya, insya Allah.

Ekspansi perlu, penguatan jati diri butuh. Tapi, apa guna jumlah tapi gagal perbaikan ruhiyah? Apa tujuan kegiatan jika kader tak terbina? Jumlah kader yang bertahan dalam banyak cabaran –lah tolak ukur kesuksesan kegiatan. Bukan banyaknya yang datang dengan beragam latar belakang tapi hilang begitu acara bubaran. “Tak perlu menjadi yang mereka mau dalam bersyiar karena kita sudah punya aturan yang baku. Cukup tawarkan dengan segala konsekuensi keputusan.” Begitu bunyi motivasi penguatan.

DULU… minim kader pun pernah terjadi. Kader inti angkatan yang sama berulang kali. Tapi mereka tak peduli. Mereka tinggalkan dakwah birokrasi, focus kaderisasi. Ada juga yang ambil aksi sendiri. Terjun bebas ke eksekutif tanpa permisi. Tak indah kan hasil syuro para petinggi. Susah payah mereka menjaga hati. Ada juga yang tewarnai karena tak kokoh jati diri.

SEKARANG… katanya, minim kader kembali terjadi. Open recruitment jadi solusi. Siapa saja bisa jadi. Akhirnya barisan dakwah tersusupi. Moga bisa segera diatasi.

 

Yaa akhawatiy fillaah..

Karena ‘gagal faham’ konsep pula lah yang menimbulkan persepsi ‘ADK hanya milik sekelompok dan tertutup atas kelompok lain.’ Ini biasa nya terjadi pada mereka yang tak hanya aktif di LDK, tapi juga organisasi dalam kampus lainnya. ‘Alih-alih’ mampu mewarnai wajihah barunya, yang terjadi malah sebaliknya. Mereka seakan-akan lupa bahwa ada perbedaan bagi ADK dengan aktivis biasa.

Secara tak langsung, kita sendiri lah yang menghasilkan argument ketiga. Argument yang menilai ada eksklusivitas dari ADK. Mulai dari perbedaan penampilan, gaya bicara, yang membuat mereka yang baru ingin bergabung merasa tidak dihormati dan mengklaim bahwa mereka belum siap alim. Sampai pula pada stigma bahwa ADK itu underbouw gerakan social politik “you know” lah. Bagaimana tidak jika semangat meramaikan kegiatan gerakan social politik tapi enggan melepaskan sejenak atribut LDK tercintanya.

Lalu bagaimana?

Ah, antum lebih tahu bagaimana seharusnya. Tak perlu mendatangkan siapa. Cukup diskusikan internal saja. Buatlah ‘rule of the game’ sendiri yang disepakati bersama.

Akhawatiy fillah..

Apa pun citra yang hendak antum bentuk, apa pun program yang antum telurkan, INGATLAH tuk kembali pada fitrah kalian. Kembali lah pada konsesi dan konsepsi kalian sendiri. Kreasi dan inovasi tidak lantas membuat kalian tercerabut dari akar hingga abaikan jati diri. Jika engkau malu dengan pakaian syari tanpa make up mu, ketakutan akan labrakan musuh, gentar berdiskusi lantang dengan dosen yang menentang, khawatir jika atribut bertebaran peserta seminar tak datang, maka TANYA kan : AKU AKTIVIS ATAU BUKAN?

Apa pun dalih mu, jika tak kembali pada khittah mu, maka tak ada pembenaran atas itu.

Untuk itu, jalani proses tarbiyah madal hayah ini tanpa henti. Lalui tiap fase nya dengan pemahaman yang mumpuni juga internalisasi dalam diri. Agar lahir akhlak-akhlak berbudi, pribadi yang saling mencintai, menghargai juga rendah hati. Yang menjaga lisan untuk setiap lontaran. Dan menjaga hati dengan penuh kesungguhan.

“Dakwah butuh kader militant, bukan karbitan. “ (Ustz. Rochma Yulika)

Kini, masa nya antum berjuang. Jadikan amanah ini sebagai yang pertama di ingatan. Jangan jadikan ia sebagai selingan. Karena Allah memilih antum bukan atas nama ketidaksengajaan.

“Dakwah ini adalah proyek Allah, dan kita hanya melaksanakannya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengan irsyadat (bimbingan) dan taujihat (arahan-arahan) Rabbaniyah wa Nabawiyyah, kita akan dimenangkan oleh Allah, insya Allah. “ (ust. Hilmi Aminuddin)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s