7 hal penting di usia 0-7 tahun

Bila mengkaji Siroh ada 7 hal penting di usia 0-7 tahun

👇👇👇

1. Fitrah Iman. Usia 0-7 adalah golden age bagi fitrah iman. Alam bawah sadar anak masih terbuka, mereka sedang sangat imajinatif dan abstraktif, maka inilah kesempatan mengenalkan Allah melalui imaji imaji positif yang berkesan indah dan mendalam. Jika terlewat, maka akan sulit karena di usia 7-10 anak mulai fase argumentatif.

.

.

2. Fitrah Bahasa dan Estetika. Pada tahap ini bahasa ibu (mother tongue)  harus utuh dengan indikasi mampu mengekspresikan gagasan dan perasaan dengan utuh. Buku buku bersastra baik dibacakan.

.

.

3. Fitrah seksualitas. Sosok ayah ibu harus hadir penuh sejak anak dalam kandungan sampai aqilbaligh. Kelekatan harus kuat. Usia 3 tahun setidaknya sudah dengan jelas mengatakan saya cowok atau saya cewek. Toileting juga bagian penting utk fitrah ini.

.

.

4. Fitrah fisik dan indera. Anak sebaiknya banyak bereskplorasi di alam nyata bukan virtual, banyak di luar ruangan daripada di dalam ruangan. Motorik sensor nya harus dipenuhi kebutuhannya dengan menyentuh, meraba, merasa, dll secara langsung di alam. 

.

.

.

5. Fitrah bakat dan kepemimpinan. Anak mulai diamati sifat2 dominannya, ego sentrisnya dipuaskan dan diakui, mulai diberi tanggungjawab kepemimpinan (executive functioning) dengan memelihara hewan atau tumbuhan sederhana.

 .

.

6. Fitrah sosial dan kehidupan. Anak dibacakan kisah kepahlawanan, kearifan lokal yang baik dstnya.

.

.

7. Fitrah belajar dan bernalar. Utamakan bermain. Hindari kognitif formal, tetapi optimalkan bermain dan permainan  imajinatif abstraktif. Ingat bahwa golden age 5 tahun pertama, dimana anak harus diisi banyak banyak karena sinapsis akan meluruh setelah usia 5 tahun, tidak pernah dibenarkan secara syariah maupun ilmiah.

.

.

.

.

kulwap Harry Santosa

Advertisements

Banyaknya hutang bunda, nak..

Hutang Kita Banyak pada anak-anak
Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah.

Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan.

Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan.
Tetapi,

seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka… 

Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya.

Menghibur kita dengan tawa kecilnya,

Menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya,

Seolah semuanya baik-baik saja, 

seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, 

meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.


Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, 

tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita.
Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka,

tetapi,

Sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan. 

Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, 

melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.
Kita berhutang banyak pada anak-anak kita.

Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap dan bermain dengan mereka?
Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?
Tentang anak-anak, 

Sesungguhnya merekalah yang selalu “lebih dewasa” dan “bijaksana” daripada kita. 

Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.
Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.
Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita.

Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi.

Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa.

Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri.
Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.

Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.
Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang & penyesalan, katakan kepada mereka: 

“Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan”
Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Allah tak berkenan. 

Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya.

Iya, lebih baik dari sebelumnya.
Selamat memeluk anak-anak kita.
@tagdoctors

Perasaan yang terabaikan

“Diaaam !.. diam mama bilang! Cengeng banget sih gak berenti berenti nangis dari tadi.. Kalau mama sudah gak sabar nanti mama pukul kamu! “
“Tau kenapa mama gak suka sama kamu?, kalau nagis lama,  dibilangin gak denger, gak kayak adikmu!, faham,,?” Ujar  bu Tini pada anaknya yang sulung berusia 5.5 tahun sambil mendorong kepala anaknya…

Terkesan familiar ?

Bukan hanya bu Tini tapi banyak ibu ibu lain sering sekali merasa tak mampu mengendalikan emosinya menghadapi anak anaknya, tanpa tahu mengapa mereka merasakan seperti itu. Umumnya bila sudah marah panjang lebar bahkan melengkapinya dengan nolak kepala seperti yang dilakukan bu Tini, ada juga dengan mencubit bahkan memukul, mereka  umumnya menyesal bahkan gak jarang menangis dikamar tidur nya.  Apalagi kalau sudah malam, semua sudah tenang dan dia mengamati atau memandangi  anaknya yang pulas tertidur dan nampak benar keluguan dan kepolosannya..

“Ya Allah kenapa aku marahi dan pukuli anakku ya Allaaah”, keluhnya sambil menciumi anaknya sementara air mata terus berurai.  Penyesalan tak pernah datang diawal….

*Aiyhhh aku bangeeetsss itu mah

Walau g nyampe main tangan..klo udh sebeeeeellll sangad itu selesai nya nyesel pake sangad pula hiks 😞

Lanjut kata bunda elly..

Beginilah jadinya bila tak ada persiapan.

Umumnya, jarang sekali  ayah dan ibu memiliki kesiapan atau dipersiapkan oleh orang tuanya  untuk menjadi orang tua.  Kalau dulu, ketika beban pelajaran belum seberat sekarang dan jam belajar belum lagi diatas 8 jam sehari, anak anak masih punya kesempatan untuk bersama dengan  anggota keluarga dirumah. Sehingga kalau tidak terlibat dalam membantu kakak atu tantenya yang punya anak kecil, anak anak masih  dimintai tolong untuk membantu mengasuh atau menolong adiknya.

Tapi situasi kini jauh berubah. Anak anak sekolah pada usia yang lebih dini, mata pelajaran yang padat, jam belajar yg panjang dan tugas sejibun. Pulang, lelah jiwa raga. Main games, nonton TV, kerjakan tugas lalu tidur. Jarang ada kesempatan  untuk dialog dan bercengkrama dalam keluarga. Apalagi kalau kedua orang tua bekerja pula dan pulang selalu lebih telat dari waktu anak tiba dirumah. Bayangkan !
Tiba tiba tak terasa anak sudah lulus sekolah menengah, mahasiswa atau sudah jadi sarjana dan waktu menikahpun tiba. Dari mana ada persiapan menjadi suami istri, apalagi ibu dan ayah?. Tahu tahu punya anak saja. Karena kurang pengetahuan, sengaja atau kesundulan: ada dua balita dalam keluarga . Huih!
Apa yang paling hilang dari  pengasuhan seperti yang diuraikan diatas adalah kesempatan untuk mendengarkan perasaan anak. Andainya saja orang tua tahu, bagaimana pentingnya perasaan itu perlu didengarkan, mereka akan berjuang untuk punya waktu dan berdialog dan membicarakan soal “rasa “ dengan anaknya . 
Bisakah anda bayangkan, apa jadinya dengan anak bu Tini diatas yang sejak usia balita ibunya suka berteriak, marah, memerintah (Diam!), mencap (Cengeng banget), mengancam (mama pukul nanti), menyalahkan ( Gak suka sama kamu, gak denger), membandingkan ( gak kayak adikmu)??.. 

Apakah cara pengasuhan seperti ini, memungkinkan  bagi orang tuanya untuk menunjukkan perhatian dan memperdulikan perasaan anak nya?. Kemana anak ini akan membawa atau mengadukan derita rasa atau jiwanya  kalau orang tuanya terus menerus menggunakan cara pengasuhan serupa ? 

Itukan baru sekali!, biasanya berapa kali dalam sehari? dan sudah berapa lama ..? Itu anak siapa ya?
Jadi bagaimana ya kalau nanti dia jadi ibu atau ayah pula?.Bila  orang tuanya terbiasa kalau marah seperti itu, tidakkah anak ini akan mengulang semua apa yang dia terima ini dengan OTOMATIS  terhadap anaknya pula nanti ?.

Berkata seorang ahli : “Hati hati mengasuh anakmu. Perbaiki pola pengasuhanmu sebelum anakmu baligh. Karena engkau sedang salah mengasuh cucumu!”.
Bagaimana mungkin ?
Bagaimana mungkin merubah cara mengasuh, kalau kita :

1.Tidak menyadari bahwa pola asuh yang kita  lakukan adalah pengulangan otomatis dari apa yang diterima dulu  dan belum mampu memutus mata rantainya .

2.Tidak mengenali pola asuh yang bagaimana yang terjadi dengan pasangan kita, mengapa dia suka bersikap dan memiliki cara pengasuhan bahkan cara berfikir yang berbeda dengan kita?. Mengenali  dan menyesuaikan diri dengan semua perbedaan itu tidaklah mudah, biasanya memerlukan waktu 5- 10 tahun. Tergantung bisa didialogkan  dan mau mencari pertolongan ahli atau tidak, bisa  dicari titik temu atau tidak. Sementara anak nambah terus…Marah sama pasangan- anak yang jadi korban iya  kan ?

3.Apalagi kalau pernikahan itu sudah bermasalah dari awal, tidak disetujui kedua belah pihak, atau hanya sebelah saja, ada kesalahan dilakukan sebelum perkawinan yang menimbukan  penolakan dari salah satu keluarga atau anggotanya.

4.Tidak mengerti sama sekali tahapan perkembangan  dan tugas perkembangan anak : Usia sekian anak harusnya sudah mampu melakukan apa dan bagaimana merangsangnya.

5.Tidak faham bahwa  bahwa otak anak  ketika lahir belum bersambungan dengan sempurna, sehingga kemampuannya terbatas, dan banyak hal mereka belum mengerti. Begitu sambungan mencapai trilliunan pada usia 2.5 tahun, anak mulai  belajar menunjukkan dirinya. Tapi ketidak fahaman membuat orang tua mematahkan semangat anak dan tidak memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya dengan sering menjadi :ayah atau mama “sini” : Sini mama bantuin, Sini ayah tolongin…

6.Begitu anak sudah 4 tahun bisa berpura dan berkhayal dikomentari : Bohong, mengada ada dll. Atau bila mereka memberikan pendapatnya orangtua mengatakan “dia sudah bisa membantah dan tidak patuh lagi “. Hoalllah…kasiannya tuh anak!

7.Orang tua tidak tahu bahwa :

Pusat perasaan diotak, berkembang lebih dulu dari pusat kognitifnya. Karena terburu buru ingin anak jadi pintar dan masuk sekolah, usia dini sudah dileskan Calistung, usia 6 tahun masuk SD. Kadang kadang ini dilakukan karena dirumah sudah ada 2-3 adiknya !.

8.BKKBN  dan Kelompok Neurosaince Terapan pernah menyarankan agar dihindari sedapat mungkin untuk ada dua balita dalam keluarga, karena sangat mengkonsumsi  jiwa, pikiran dan tenaga ibu. Apalagi kalau kedua oang tua bekerja  dan anak di “subkontrakkan” kepada orang lain. Bayangkan apa jadinya dengan anak itu? .

Jika  anak saja tidak mendapatkan  kesempatan untuk  didengarkan perasaannya apalagilah ibunya?

Mengapa fungsi berfikir ibu  jadi terganggu?
Bagaimana tidak, kalau ibu mengalami semua 8 masalah diatas?.

Seorang ahli mengatakan bahwa bila seseorang sedang secara fisik sangat lelah, maka emosi mudah naik, sehingga bagian berfikir diotaknya menjadi sempit dan fungsi berfikir terganggu. Kelakuan  didominasi oleh emosi. Kesadaran dan penyesalan  akan muncul belakangan setelah emosi reda, letih berkurang .
Katherine Ellison, dalam bukunya The Mommy Brain menceritakan hasil risetnya bertahun tahun, bahwa ibu yang  baru melahirkan itu normal bila dua bulan pertama mengalami apa yang disebutnya : “Amnesia keibuan, atau pikun kehamilan”. 
Hal ini terjadi oleh karena kekacauan kimiawi saat hamil dan melahirkan ditambah dengan rasa sakit, kekurangan tidur dan keharusan  untuk belajar banyak hal sekaligus tentang mengurus, bayi, diri sendiri dan tetap memperhatikan lingkungan. Bila anda lengah sekejap saja, bia menimbulkan  akibat yang sanga mengerikan . Allison mengemukakan juga bahwa di Inggris keadaan ini disebut sebagai : Otak Bubur, di Australia  : “Otak Plasenta” dan “Otak mami” di Jepang . Bayangkanlah kalau di bulan ketiga ibu ini sudah hamil lagi…
Jadi untuk membantu bagaimana agar  ibu “Tidak emosian” dalam mengasuh anak anaknya, semua orang disekitarnya, terutama para ayah dan orang tua hendaknya mengerti akan 8 hal yang  umumnya dihadapi oleh seorang ibu berikut “amnesia atau pikun keibuan” diatas dan jangan abaikan perasaannya .

Diatas segalanya, ibu itu sendiri  harus mampu mengenali dirinya dan berupaya memahami sepenuhnya serta berdamai dengan masa lalunya dengan memaafkan semua yang terjadi.Selain itu ia harus berusaha mengerti apa yang terjadi dengan pasangannya dan orang disekitarnya.Jangan karena tak mau berdamai dengan sejarah hidup, kesal dengan orang sekitar :suami dan anggota keluarga, anak yang dijadikan korban.

Anak tertekan, tak dimengerti dan tak didengarkan perasaannya adalah bencana di hari tua dan akhirat anda.. 
Dari risetnya tentang otak para ibu, Allison menunjukkan bahwa dengan menjadi ibu anda menjadi lebih pintar dan cerdas dari apa yang kita fikirkan!.Ada lima sifat otak yang dirangsang oleh bayi anda: Persepsi, Efisiensi,Daya tahan,Motivasi,dan Kecerdasan emosi..

Jadi apalagi dear ? : manfaatkan Mommy Brain anda.

Selamat berjuang untuk menyelesaikan urusan dengan diri sendiri  sebelum anda menyelesaikan urusan anak dan keluarga anda. Putuskan mata rantai itu.

Mulailah dengan belajar mendengarkan  dan menerima perasaan anak anda…

Selamat Berbahagia ..

Luv u all 

Bekasi 18 Desember 2015

Elly Risman

>>Lbh baik punya adik setelah anak usia 5th

#ParentingEraDigital

jadi seperti bunda

tadi siang g sengaja nonton program keluarga hafiz di stasiun tv swasta nasional..
nemu momen yg hiks sangad dah mpe mrembes bermili-mili..

ada dua anak perempuan kembar yg hafidz juz 30..
mungkin krn liat jilbab bunda nya rapi, host nya nanya gini..

“anak2 bisa hafal quran krn mencontoh bunda ya?”

Continue reading

Membuat Anakmu Sholat TANPA Debat, Keringat, Urat & Pengingat

🍃🌸 Membuat Anakmu Sholat TANPA Debat ..  Keringat .. Urat .. & Pengingat .. 🌸🍃

“Bagaimana Membuat Anak2 Anda Sholat dengan
Kesadaran Mereka Sendiri Tanpa Berdebat dan
Tanpa Perlu Diingatkan .. ?

💕Anak2 anda tidak mau sholat .. ? atau mereka
sampai membuat anda capek saat mengingatkan
untuk sholat .. ? Mari kita lihat bagaimana kita bisa merubah ini semua ~ biidznillah

Continue reading

Tantangan Keluarga muslim pada Era Modern (tanya jawab)

REKAP TANYA JAWAB🌷🌵

1⃣ Ustadz, bagaimana cara terbaik membentengi keluarga kita dari pengaruh media? Terutama anak2.

➡ Pertama kalau sudah terlanjur, batasi pemakaian hp, tv, laptop. Program 1821, jam 6 mlm sampai jam 21.00 tidak pegang gadget

2⃣ Ustadz ingin bertanya, Bagaimana untuk membentengi pemikiran dari berbagai persepsi yang terdapat dalam permainan politik ? Permainan politik ini kan juga bs di dapatkan melalui organisasi, media, dll.

➡ Masalah politik memang agak susah. Ane sendiri jg anggota politik tertentu. Monggo kalau masalah politik bisa panjang penjelasannya, bisa bahas lebih lanjut

3⃣ Asslmkm. Ustadz anak sulungku keranjingan ps sma game online. Di rumah tdk ada, dia main ke rental yg kbtulan tetangga rumah. Saya sampe pusing krn harus terus jemput klo ada les atau tpa

➡ Memang kalau sudah keranjingan agak susah, coba dikit dikit kasih pengertian. Sibukkan dg kegiatan qiro’ati atau olahraga.

image

4⃣ Ustdaz, bagaimana jika orang tuanya yg kecanduan nonton tv. Misalnya, harus selalu di ingatkan padahal usia sdh di atas 50 thn.

➡ Orgtua kalau ndak ada kesibukan memang pelariannya ke sana. Carikan kesibukan supaya tidak tetgantung pada tv

5⃣ Assalamualaikum ustadz mau tanya. Ada tiga lingkaran lingkungan yg membentuk karakter manusia/anak, diantaranya keluarga. Nah… bagaimana ya ustadz jika dalam keluarga antara suami n istri berbeda konsep dalam mendidik anak? jazakalloh ustadz

➡ wa’alaikumussalam wr wb. Wah kalau beda konsep antara suami n istri ya repot, coba dikomunikasikan dulu supaya konsep sama, kalau mentok coba anak di sekolah/yg ada asramanya atau pondok. Agar tidak terkontaminasi dengan keadaan rumah. Rumah tangga kalau sampai beda konsep, kalau ndak ada kompromi susah. Sekali lg dikompromikan beda konsepnya

Smoga dengan kemajuan tehnology di era modern ini, tidak menjadikan keluarga kita smakin tidak harmonis, justru dengan kemajuan ini kita manfaatkan utk mempercepat proses hubungan antar keluarga.

6⃣ Ustadz, apakah ada batasan umur seorg anak bisa diberi gadget sendiri? Atau kondisi seperti apa anak bisa punya gadget/hp sendiri? Anak sy msh 8 tahun suka merengek minta dibelikan hp. Tp saya menolak.

➡ Ndak ada batasan Bu, kondisional. Tapi untuk anak dibawah sma susah u dikondisikan

Intinya anak jangan terjebak u pakai gadget hanya utk mainan atau sekedar anak biar diam dan tidak rewel, tapi yg dimainkan game terus, karena game jenisnya banyak sekali. Jadi anak kalau bosen ngegame yg satu, akan sangat mudah utk ganti game yg lain.

Dalam keluarga hendaknya,
Seorang laki-laki shalih ia begitu perhatian pada istrinya begitu pula sebaliknya, berkata santun, memenuhi kebutuhannya, dan  mencintainya, selalu mengayomi agar istri /suami selalu dalam ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul SAW.

Keduanya sangat perhatian akan keselamatan anak-anaknya, mentarbiyahnya dengan tarbiyah Islamiyah, memberikan makan dengan rizki yang halal.

Maka dari itu, diperlukan sinergi antara suami dan istri untuk mendidik anak anaknya utk mjd anak yg sholeh n sholehan, yg nantinya senantiasa mendoakan org tuanya dikala masih hidup sampai meninggal

🌿🌿🌿🌿🌸🌸🌿🌿🌿🌿

Republished by
® Persaudaraan Muslimah Indonesia🇮🇩
🌐 http://www.persaudaraanmuslimah.blogspot.com
🌍 Fp : Persaudaraan Muslimah Indonesia

Tantangan Keluarga muslim pada Era Modern (materi)

Tantangan Keluarga muslim pada Era Modern
KAJIAN AL QURAN ONLINE

GRUP : PERSAUDARAAN MUSLIMAH INDONESIA 02 UMMI

📆 Hari & Tanggal :  Selasa, 16 Februari 2016
👥 Narasumber : Ust Sugiyana
📌 Tema : Tantangan Keluarga muslim pada Era Modern
⏰ Waktu : 19.30 WIB – Selesai

      🌼🌱MATERI🌱🌼
Continue reading